1.000 Tulisan di Blog Ini

1.000 Tulisan di Blog Ini - 1000 artikel di blog

Tahun 2020, blog ini memiliki 1.000 tulisan sejak tahun 2012. Dari sekian tulisan itu sekitar 600 artikel adalah iklan. Artikel yang sudah disiapkan oleh pengiklan untuk saya unggah di blog ini.

Mungkin ada beberapa yang lupa saya tandai sebagai advertorial atau artikel iklan. Jadi ada kemungkinan lebih dari 600 artikel. Rasio antara iklan dan artikel sendiri ternyata sangat jauh. Dari 10 artikel berarti hanya 3 atau 4 yang asli tulisan saya sendiri.

Travel Blogger

Begitulah, blog ini dibuat semata-mata untuk mencari uang. Dulu saya pernah bercita-cita menjadi travel blogger tapi keadaan tidak memungkinkan. Awalnya blog ini mendapatkan penghasilan dari Google AdSense, tapi tidak lama kemudian kehilangan ranking di Google. Otomatis tidak dapat penghasilan sama sekali.

Kemudian, saya mulai mengenal bisnis content placement. Sekarang banyak bisnis yang mempunyai website. Mereka semua bersaing untuk tampil di halaman pertama Google. Nah, salah satu cara supaya ranking naik adalah mendapatkan link atau tautan sebanyak mungkin ke website mereka.

Sebenarnya sih hal ini dilarang Google, ada resiko juga untuk blog saya dan website pengiklan. Keduanya bisa hilang dari indeks Google. Tapi dengan kombinasi anchor text yang tepat, saya yakin aman. 3 tahun terakhir ini semakin ramai content placement atau jasa review.

Bahkan sekarang ada 3 situs marketplace yang mengumpulkan ribuan blogger. Dengan begini pengiklan bisa dengan mudah membeli backlink tanpa harus menghubungi blogger satu per satu.

Jenuh

Bulan februari 2020. Saya mulai merasa jenuh ngeblog. Bahkan saya sampai ingin menjual semua blog yang saya kelola.

Rasa jenuh ini semakin parah ketika penghasilan menurun. Hee kelihatan banget ya, niat ngeblog karena duit. Dari kejadian ini saya mulai melirik bisnis selain blog.

Saya beranikan diri beli mesin mie karena saya suka makan mie ayam. Ya namanya blogger, setelah beli barang biasanya dibuat artikel. Review mesin pembuat mie otomatis ReNoodle RN-77.

Sebenarnya saya tidak begitu tertarik untuk bisnis kuliner tapi saya merasa harus ada diversifikasi sumber penghasilkan. Kalaupun tidak jadi bisnis kuliner, ya paling tidak mesin ini bisa dipakai untuk konsumsi sendiri. Eh sebenarnya mesin ini untuk rumahan lho, bukan untuk jualan.

Saya lihat sekarang semua orang bisa jual makanan tanpa harus sewa kios. Ada GrabFood dan GoFood, dengan aplikasi ini bahkan orang yang tinggal di dalam perumahan bisa menjual makanannya kemana saja.

Terus Apa?

Ya sambil menunggu diterima GrabFood dan GoFood, tentu saja bisnis blog masih tetap berjalan. Beberapa pekan ini saya mencoba untuk aktif menulis lagi dengan target minimal 300 kata per artikel.

Lama tidak menulis sendiri membuat jari terasa kaku. Seakan otak ini beku tidak bisa mengekspresikan isi pikiran. Maklum, selama ini kalau ada artikel review saya selalu bayar penulis. Terima jadi lalu upload deh ke blog, terus tunggu bayaran. Dasar pemalas hehe.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*