Goodbye Things, Buku Tentang Minimalisme yang Mengubah Kehidupan Saya

Siapa sangka, buku kecil ini memberikan pengaruh terhadap kehidupan saya. Judulnya Goodbye Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang.

Saya punya prinsip untuk hal duniawi, saya bebas mengambil ilmu dari siapa saja. Tidak peduli dia berbeda agama atau pandangan. Asalkan hal itu bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat agama Islam.

Awalnya Cuma Merapikan Meja Kerja

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengganti kabel charger Magsafe laptop MacBook Pro dengan adapter. Hal kecil ini ternyata membuat meja kerja saya yang sempit terasa lebih luas.

Semakin jauh saya membaca, ternyata minimalisme lebih dari sekedar merapikan atau membuang barang. Ada banyak hal positif yang saya ambil dari buku Fumio Sasaki ini.

Masa Lalu Itu untuk Dilupakan

Sebagai seorang perantau yang tidak pernah rindu terhadap kampung halaman, saya tidak merasa terikat dengan kota atau lingkungan tertentu. Kehidupan saya bebas (dalam hal positif) dan bisa berbahagia dimana pun saya tinggal.

Bahkan saya tidak pernah punya rencana untuk menetap di kota manapun. Walaupun sekarang sudah tinggal lebih dari 10 tahun di kota yang sama. Saya tetap merasa sebagai seseorang tamu yang sedang singgah.

Masa lalu saya penuh dengan kehidupan yang buruk dan menyakitkan. Sesuatu yang kalau diingat kembali justru memunculkan rasa benci. Misalnya, dengan melihat hard disk ini saja saya jadi teringat ke masa lalu. Jadi, melupakan masa lalu adalah jalan terbaik.

Dan salah satu caranya adalah membuang segala sesuatu yang mengingatkan masa lalu itu. Contohnya di dalam hard disk ini tersimpan beberapa hal yang menjadi bagian di masa lalu saya.

Masalahnya, hard disk ini terlalu jadul karena menggunakan konektor IDE, jadi sudah lebih dari 5 tahun hanya memenuhi laci. Susah sekali mencari konektor ini di Purwokerto. Di dalam pikiran saya muncul, “Nanti kan bisa beli konektor IDE di internet, simpan saja dulu.” Dalam prinsip minimalisme, kita harus berani untuk “membuang”.

Akhirnya saya beranikan diri untuk membuangnya saja, toh saya bahkan hampir tidak ingat isinya apa saja. Hanya penasaran, dulu saya menyimpan apa saja ya di hard disk itu. Untuk keamanan, saya rusak terlebih dahulu piringannya dengan menggoresnya dan menempelkan magnet.

Buang Barang yang Tidak Pernah Digunakan Lebih dari 1 Tahun

Di antara tumpukan itu ada majalah agama, buku tentang komputer, dan segala sesuatu yang tidak lagi berguna menurut saya. Ketika ingin membuang barang tersebut selalu saja terlintas di pikiran saya, “Ini kan majalah agama bisa dibaca ketika senggang”.

Dari buku Goodbye Things karya Fumio Sasaki yang baru saya baca. Saya mengambil pelajaran untuk berani membuang barang yang faktanya tidak lagi bermanfaat.

Soal majalah agama, saya mengakui itu ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Akan tetapi apakah akan bermanfaat kalau hanya sebagai tumpukan di lemari? Nah, saya rasa tidak. Lebih baik diberikan kepada pihak yang saya percaya bisa memanfaatkannya.

Lagipula untuk belajar agama lebih utama datang langsung ke majelis ilmu. Bisa bertatap muka dengan sesama jamaah dan lebih banyak lagi manfaatnya daripada membaca sendiri di rumah. Kalaupun tidak sempat keluar rumah, ada radio dan internet yang bisa digunakan untuk belajar.

Sedangkan untuk buku ilmu duniawi seperti PHP, MySQL dan lain-lain. Saya tidak lagi butuh terhadap ilmu tersebut secara menyeluruh. Semua website yang saya buat sekarang menggunakan WordPress. Saya tidak perlu repot belajar satu per satu secara rinci.

Saat ingin membuang sesuatu selalu saja ada pikiran, “Nanti kan bisa diperbaiki, simpan saja dulu.” Misalnya saja rice cooker, tapi faktanya tidak pernah diperbaiki. Ah omong kosong, lebih baik dibuang saja kan.

Rumah Jadi Lebih Mudah Dibersihkan dan Enak Dipandang

Membersihkan rumah itu pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Dengan membuang barang yang jelas-jelas tidak berguna maka otomatis membersihkan rumah jadi lebih mudah.

Tempat yang dulunya saya gunakan untuk menumpuk majalah dan buku kini hanya disapu saja tanpa harus memindahkan kardus buku-buku. Rumah yang saya kontrak ini ukurannya sempit, sampai-sampai sandal yang berserakan bisa membuat pemandangan jadi tidak enak, apalagi tumpukan kardus.

Minimalis Bukan Hanya Tentang “Membuang” Barang

Sebelumnya saya pernah sekilas membaca tentang minimalisme. Saya mengira orang-orang minimalis adalah orang yang serampangan membuang barang, dengan tujuan supaya ruangannya kosong.

Ternyata tidak semudah itu. Barang yang akan dibuang ternyata harus melalui proses pertimbangan, bukan hanya sekedar ingin mengosongkan isi rumah. Mungkin saya tidak akan bisa seperti para minimalis di buku itu yang rumahnya hanya ada beberapa perabotan dan baju yang tidak sampai selusin.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*