Ketika Klien Menganggap Wix Lebih “Maju” Daripada WordPress

Selain blogger full-time saya juga mengambil pekerjaan yang saya sendiri sebut sebagai web operator. Kerjanya bisa dibilang ringan, mengurusi website klien supaya tetap jalan dan eksis di hasil pencarian Google. Kerjanya bisa dilakukan dari rumah, sesekali datang ke workshopnya klien yang jaraknya sekitar 10 menit perjalanan mengendarai motor. Soal membuat website dan maintenancenya tidak terasa sulit bagi saya karena itu “makanan” saya setiap hari.

Satu hal yang terkadang terasa sulit adalah ketika harus melakukan optimasi website klien di Google. Klien saya ini punya saingan yang sama-sama punya website juga dan persaingannya cukup ketat. Sebagai pengguna WordPress sejak versi awal saya tentunya hampir terbiasa membuat website dengan WordPress. Tidak terkecuali website klien saya ini semuanya dibuat menggunakan WordPress.

Semuanya berubah ketika partner dari klien saya ingin membuat website baru. Salah satu job description saya memang membuat website baru, bebas menggunakan platform apa saja dan saya pilih WordPress. Partner klien saya ini ternyata meminta website barunya dibuat menggunakan Wix. Mungkin partner klien saya itu bisa menangkap ekspresi saya yang setengah kebingungan. Saya paham seperti apa Wix, interfacenya lambat dan ribet, tidak seperti WordPress.

Yang lebih mengherankan ketika partner klien saya ini mengatakan, walaupun secara tidak langsung kalau sudah saatnya menggunakan website yang lebih modern. Kalau saya lihat sih beliau ini backgroundnya di desain grafis jadi saya maklumi saja. Seketika saat itu saya meminta referensi website seperti apa yang beliau inginkan. Disebutlah website “Mr. X” oleh beliau lalu saya cek dan melihat websitenya sederhana, ada slider, beberapa kolom dan baris menjelaskan jasa yang ditawarkan.

Mungkin beliau belum tahu kalau WordPress lebih powerful daripada Wix, bahkan sekarang ada plugin visual builder yang fungsi mirip seperti Wix. Karena bos pertama saya memerintahkan untuk mengikuti si partnernya ini ya akhirnya saya harus belajar menggunakan Wix. Terbiasa dengan interface WordPress yang ringan dan simpel membuat saya sedikit frustasi ketika pakai Wix, tetapi apa boleh buat saya harus menuruti perintah klien.

Tetapi saya tidak menyerah begitu saja karena ini semua untuk kebaikan klien saya juga. Saya tetap membuat website tersebut tanpa memberitahukan kalau menggunakan WordPress. Semua fitur dan tampilannya saya buat sedemikian rupa mirip dengan website referensi partner klien saya. Hasilnya saya share di grup WhatsApp internal dan kebanyakan orang di grup itu termasuk bos pertama saya hampir tidak mengetahui kalau website barunya itu menggunakan WordPress.

Demi menghormati partner klien saya yang meminta website barunya menggunakan Wix, saya mengatakan masih sedang tahap mempelajari Wix jadi untuk sementara website baru ini menggunakan WordPress sampai saya mahir pakai Wix.com. Salah satu kelebihan WordPress yang tidak dimiliki Wix adalah plugin yang dengan fitur ini saya bisa memodifikasi dan optimasi website sejauh mungkin.

Sebagai informasi plugin yang saya pakai untuk menciptakan website dengan fitur persis seperti Wix.com adalah Elementor. Para pembaca yang mungkin kebetulan seorang web designer atau siapa saja yang suka membuat website, plugin ini boleh saya bilang sangat membantu pekerjaan desainer web.

2 Comments

  1. haha, wix yah 😀
    emang sih kebanyakan anak desain tahunya wix ko 🙂
    aku kenal anak arsitek, dia juga websitenya pake wix
    bahkan domainnya pake subdomainnya wix, kurang apa coba hehe

  2. WordPress emang mangtab… meskipun saya otodidak, template juga beli tapi mengakui kalo wordpress untuk pengguna cupu seperti saya itu baik :). permasalahan wordpres untuk pemula adalah proses memahaminya, meskipun semboyanya “cms yg mudah”, untuk mengenal pertama kalinya bener2 perlu berpikir multitasking. dari ratusan template, merka semua tidak pernah sama dalam “berkomunikasi’ dengn pluggin..
    sempat frustasi jug di awal ketika harus memahami worpress…
    padahal itu baru berurusan dengan pluggin n template, belum sampai ngotak-atik php. :’)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*