Kisah Bumbu Nasi Goreng

Nasi goreng atau sering juga disebut nasgor merupakan salah satu makanan favorit saya, ada yang bilang makan nasi goreng itu rugi karena cuma nasi doank hehe 😀 – bener juga sih di nasi goreng itu cuma isinya ya nasi ditambah daging (ga seberapa banyak sih). Saya kenal nasgor sejak di Purwakarta, kebetulan banget di depan rumah ada yang jualan nasi goreng – bisa dibilang hampir tiap hari saya jajan ke situ…

Nasgor Buatan Ibu

Kalau dihitung secara matematika – setiap bungkus nasi goreng itu berbanding lurus dengan lembaran uang yang keluar dari dompet dan jika diakumulasi dengan jumlah hari tentu uang yang keluar akan semakin banyak (kalo lagi laper banget kadang belinya 2 bungkus).

Ibu saya ga suka saya jajan di luar…karena masakan di rumah jadi ga habis dan katanya boros, tapi tetap saja nasgor di tenda biru itu tetap lebih menggugah selera dibandingkan nasi goreng buatan ibu.

Bukan bermaksud untuk tidak menghargai masakan ibunda tercinta, tapi ada sebuah ungkapan yang mengatakan – “lidah ga bisa bohong” dan ini benar adanya, lisan yang terucap tidak selaras dengan batin hehehe.

Nasgor dengan Bumbu Instan

Hampir semua merk bumbu nasi goreng yang dijual di toko dan warung terdekat sudah saya coba. Tapi tetap saja tidak ada yang menyamai rasa legendaris dari nasi goreng di pinggir jalan itu… Sampai saatnya tiba – suatu ketika di tengah rasa lapar yang mendera di siang hari, rasanya mustahil untuk menemukan seorang tukang nasi goreng (nasgor di sini keluarnya kalo sore).

Saya kirim seorang utusan terpercaya (adik saya) untuk melakukan perjalan ke selatan mencari kitab suci bumbu nasi goreng. Tak disangka-sangka dia membeli sebungkus bumbu nasi goreng dengan varian yang belum pernah terbesit di hati dan belum pernah saya coba sebelumnya.

Dengan penuh rasa penasaran – bumbu tersebut bersatu padu dimasak dengan 2 piring nasi ditambah dengan pelengkap seperti telur goreng. Nasi goreng itu mengeluarkan aroma khas yang membangkitkan memori kenangan indah bersama nasi goreng tenda biru itu. Sampai sesuap nasgor itu masuk ke mulut…sejenak hati ini berbisik, “Inikah bumbu nasi goreng yang selama ini aku cari…” Aku tatap dengan penuh rasa pengharapan ke secarik bungkus yang terkulai lemas itu — “Sensasi Anglo” — 2 kata itu kini begitu membekas.

Bumbu-Nasi-Goreng

Perpisahan dan Pertemuan

Sebuah kenyataan pahit, esok harinya ternyata bumbu nasi goreng “Sensasi Anglo” tidak dijual lagi di warung itu. Aku coba mencarinya di pasar, di warung, di tukang sayur, di grosiran tidak aku temukan bumbu nasi goreng dengan 2 kata itu… Pupus sudah harapanku bisa menikmati nasi goreng dengan rasa seperti nasgor yang dijual di tenda biru itu. Sampai suatu hari 2 tahun kemudian takdir mempertemukan kami… di Moro – sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota Purwokerto.

Saat aku telusuri rak bumbu nasi goreng – mataku tertuju ke sebuah bungkusan kuning… Perlahan aku mendekat, aku tatap dengan penuh harap…. ternyata 2 kata itu tertulis “Sensasi Anglo” – tanpa menunggu lama – 3 bungkus aku masukan ke keranjang belanja. Entah kenapa begitu sulit menemukan bumbu nasi goreng yang satu ini. – Tamat – 😀

2 Comments

  1. haha, aku juga susah menemukan minuman legendaris jaman awal nikah, minuman itu NU JUV
    sekarang ga ada di mana2, padahal dulu gampang nyari di indomaret

Leave a comment

Your email address will not be published.


*