Pengusaha Sukanto Tanoto Tidak Minder Bersaing Di Pasar Global

Sukanto Tanoto bisa menjadi contoh bagi siapa saja di Indonesia. Ia merupakan pebisnis dalam negeri yang tidak takut untuk bersaing di pasar global. Pasalnya, pendiri dan Chairman Royal Golden Eagle (RGE) ini menilai kualitas pengusaha lokal tidak kalah dengan asing.

Saat ini, tidak banyak pengusaha Indonesia yang bisa muncul di level internasional. Indikasinya sangat kentara. Tingkat ekspor Indonesia sering kali kalah dibanding dengan tingkat impor.

Hal sederhana itu menunjukkan belum banyak produk-produk lokal yang ditemui di luar negeri. Berbeda katakanlah dengan Amerika Serikat dan Tiongkok. Mudah sekali ditemukan produk-produk yang dibuat di sana di Indonesia.

Seharusnya kondisinya tidak seperti itu. Indonesia punya sumber daya alam yang sangat kaya. Jika jeli, hal tersebut bisa dimanfaatkan menjadi produk bernilai tinggi yang disukai pasar internasional.

Inilah yang sudah dibuktikan oleh Sukanto Tanoto bersama RGE. Ia mampu membawa perusahaannya bersaing di pentas internasional. Caranya ialah dengan membawa produk-produk RGE diterima di pasar global.

Saat memulainya, Sukanto Tanoto mencari tahu dulu kelebihan yang dimiliki Indonesia. Ia tahu bahwa negara kita terletak di kawasan tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun. Maka, sebenarnya Indonesia sudah memiliki keuntungan tersendiri ketika hendak mendirikan perkebunan.

Fakta tersebut yang mendasari Sukanto Tanoto memutuskan untuk menerjuni bisnis sumber daya. Ia sadar Indonesia punya kelebihan untuk bersaing di pasar internasional karena hal tersebut.

Buah nyatanya ialah salah satu anak perusahaan RGE, APRIL Group. Perusahaan ini bergerak di industri pulp dan kertas. Ia mendapat inspirasi untuk mendirikannya ketika bepergian ke Finlandia.

Di sana Sukanto Tanoto mendapati bahwa industri pulp dan kertas bisa berkembang pesat. Padahal, sebagai negara beriklim subtropis, Finlandia lebih sulit menumbuhkan pohon sebagai bahan baku. Sebagai gambaran, untuk memanen kayu diperlukan waktu puluhan tahun.

Namun, Indonesia berbeda. Menanam pohon akasia yang bisa menghasilkan kayu sebagai bahan baku pulp dan kertas hanya butuh lima tahun untuk siap dipanen. Selain itu, setiap saat pun pohon bisa ditanam tidak perlu menunggu musim tertentu.

Kelebihan itu membuat Sukanto Tanoto yakin untuk menggeluti bisnis pulp dan kertas. Tak heran, pada 1993, ia mendirikan APRIL. Menurutnya produk yang dihasilkannya mempunyai ciri khas Indonesia, yakni berasal dari sumber daya yang ada di kawasan tropis.

Jadilah Sukanto Tanoto membesarkan APRIL demi bersaing di pasar global. Saat ini, perusahaannya itu menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Setiap tahun, APRIL sanggup memproduksi pulp sebanyak 2,8 juta ton dan kertas hingga 1,5 juta ton.

Bahkan, APRIL memiliki salah satu produk yang mendunia. Itu adalah kertas PaperOne yang telah dijual di 70 negara lebih. PaperOne merupakan merek kertas premium yang dikenal memiliki kualitas tinggi. Kertasnya berwarna putih dan tebal. Permukaannya halus sehingga cocok sekali digunakan untuk mencetak. Pasalnya, hasil cetakan di sana dijamin bagus dengan warna yang cerah. Selain itu, kertas tidak mudah lecek karena tinta yang tidak tembus usai dipakai mencetak.

Hal itu merupakan bukti bahwa produk buatan Indonesia bisa disukai oleh pasar global. Kuncinya adalah kualitas dan mutu yang berada di standar tertinggi.

Pencapaian itu merupakan hasil kerja keras Sukanto Tanoto. Saat memulai APRIL, ia mau belajar ke luar negeri untuk menyerap ilmu dan teknologi produksi pulp dan kertas termodern.

“Jadi, saya memang bisa memulainya (bisnis pulp dan kertas, Red.). Butuh enam tahun bagi saya untuk membuatnya kompetitif di level global. Saya pergi ke Brasil untuk mempelajari teknologinya karena mereka mampu menumbuhkan pohon dengan baik dan punya pemanfaatan pulp yang unik,” ujar Sukanto Tanoto.

BERHARAP PENGUSAHA LAIN MENGIKUTI JEJAKNYA

Sukanto Tanoto berharap tidak hanya dirinya yang bisa bersaing di pasar global. Ia ingin para pengusaha lain di Indonesia mampu melakukan hal serupa.

Langkah yang diambil untuk mewujudkan mimpi tersebut adalah dengan memberi contoh. Selain bersama APRIL, ia membuktikan lewat berbagai bisnis RGE lain, dirinya bisa bersaing di pasar global.

Lihat saja salah satu anak perusahaannya RGE yang bergerak di industri kelapa sawit, Asian Agri. Mereka menjadi salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di Asia. Per tahun, Asian Agri sanggup menembus kapasitas produksi hingga 1 juta ton.

Selain itu, dalam usia yang sudah tidak lagi muda, Sukanto Tanoto tetap bersemangat dalam menjalani persaingan di tingkat global. Hal itu ditandai dengan keseriusan untuk terjun di bisnis minyak dan gas.

Bersama Pacific Oil & Gas, Sukanto Tanoto siap bersaing dengan perusahaan energi kelas dunia. Ia tidak menyebut hal tersebut sebagai tantangan, tapi justru sebuah kesempatan langka.

“Kapan lagi dalam hidup Anda bisa memperoleh kesempatan bersaing dengan Shell, Chevron, dan BP?” ujarnya.

Keputusan untuk menjadikan Singapura sebagai basis utama RGE juga semakin memperkuat niat Sukanto Tanoto untuk bersaing di pasar internasional. Dengan itu, ia merasa RGE lebih mudah menuju level global. Dari sana, ia hendak mengembangkan pasar global.

Ia mencontohkan keberadaan Toyota di Indonesia. Hal itu bukanlah indikasi mereka lari dari Jepang. Namun, lebih dikarenakan tuntutan untuk mencari pasar yang lebih besar.

Kebetulan Sukanto Tanoto memang memiliki prinsip utama untuk mengikuti pasar terlebih dulu. Sebelum memulai bisnis apa pun, ia pasti mencari pasar mana yang dituju. Ketika sudah menemukannya, ia bakal memburunya. Karena sudah memutuskan untuk bersaing di level global, maka Sukanto Tanoto harus menuju ke sana.

“Kita ingin buktikan bahwa pengusaha Indonesia tidak hanya jago kandang yang dapat fasilitas dari pemerintah. Tapi kami juga bisa menaklukkan dunia, dan kompetitor besar,” katanya.

Bersama RGE, Sukanto Tanoto sudah membuktikan bahwa pengusaha Indonesia bisa bersaing di pentas internasional. Di RGE yang dikendalikannya, anak-anak perusahaannya tidak hanya ada di Indonesia.

RGE juga punya sayap di Brasil dengan Bracell. Mereka adalah pemimpin pasar global dalam industri specialty cellulose. Mengelola perkebunan yang terintegrasi fasilitas produksi seluas 150 ribu hektare, Bracell sanggup menembus kapasitas produksi sebanyak 485 ribu metric ton dissolving wood pulp setiap tahun.

Bukan hanya di Brasil, RGE juga punya anak perusahaan di Tiongkok. Mereka memiliki Asia Symbol yang dikenal sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terkemuka di sana.

Setiap tahun, Asia Symbol sanggup menghasilkan dua juta ton pulp, satu juta ton fine paper, dan 530 ribu ton paper board. Mereka memiliki pabrik di Shandong dan Guangdong.

Ada pula Sateri yang merupakan pemimpin global di industri viscose fibre. Per tahun, mereka sanggup menembus kapasitas produksi 550 ribu ton. Namun, pada 2025, Sateri menargetkan hendak mencapai kapasitas produksi hingga tiga juta ton setiap tahun.

Pencapaian ini menandakan bahwa Sukanto Tanoto merupakan pebisnis kelas internasional. Ia mampu melakukannya karena tidak pernah minder bersaing di pasar global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *