Perusahaan Sukanto Tanoto Berkontribusi Terhadap Pengadaan Listrik

Sebuah langkah unik diambil oleh pengusaha Sukanto Tanoto dalam berbisnis. Pendiri Royal Golden Eagle (RGE) ini ingin perusahaannya bisa berguna bagi masyarakat dan negara. Salah satu perwujudannya adalah berkontribusi terhadap pengadaan listrik.

Selama ini listrik memang menjadi masalah besar di Indonesia. Tingkat elektrifikasi yang belum optimal membuat belum semua wilayah di negeri kita dialiri listrik.

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), per 2016, tingkat elektrifikasi di Indonesia baru sekitar 91 persen. Meski begitu, jumlah ini lebih tinggi dari target yang dicanangkan.

“Rasio elektrifikasi saat ini 91,6 persen. Capaian ini lebih besar dari target rencana strategis KESDM 2015 hingga 2019 sebesar 90 persen. Untuk 2017, pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi nasional mencapai 92,75 persen,” kata Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di Kompas.com.

Untuk menggapai target tersebut, kerja keras diperlukan oleh pemerintah. Maka, mereka pun mengundang pihak swasta agar bisa berkontribusi. Pasalnya, berat bagi pemerintah untuk menyelesaikan semua pekerjaan seorang diri.

Ajakan semacam ini sebenarnya sudah disambut dengan baik oleh pengusaha Sukanto Tanoto. Sejak dulu ia memang sudah berusaha mengarahkan perusahaannya supaya bisa berkontribusi dan berguna untuk masyarakat dan negara.

Oleh karena itu, di dalam RGE, operasional perusahaan dipikirkan baik-baik. Selalu dicari cara supaya kegiatan kesehariannya bisa memberi manfaat kepada khalayak.

Terkait dengan listrik, RGE rupanya memiliki solusi jitu. Mereka mampu memproduksinya sendiri setelah dengan jeli mampu memanfaatkan sejumlah limbah hasil produksinya.

Awalnya perusahaan-perusahaan Sukanto Tanoto sering kesulitan mendapat suplai listrik untuk proses produksi. Tingkat elektrifikasi yang rendah membuat mereka tidak bisa mengandalkan dukungan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus-menerus.

Atas dasar ini, perusahaan Sukanto Tanoto berupaya mencari solusinya. Langkah untuk membuat pembangkit tenaga listrik sendiri dirasa sebagai cara terbaik.

Sesudah pilihan mengerucut, pemikiran dilanjutkan ke tahap berikutnya. Bersumber dari mana energi listrik yang dihadirkan nanti? Keputusan cerdas dilakukan oleh RGE. Mereka memanfaatkan limbah produksi sebagai sumber energi listrik.

Salah satu yang melakukannya adalah Asian Agri. Anak perusahaan Sukanto Tanoto yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit ini menggunakan limbah produksinya untuk produksi listrik.

Asian Agri segera membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). Fasilitas ini dibangun untuk memanfaatkan limbah cair proses pengolahan kelapa sawit yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent (POME). POME itulah yang diolah sedemikian rupa menjadi biogas yang diubah menjadi listrik.

Untuk mendirikan sebuah PLTBg, investasi besar dikucurkan oleh Asian Agri. Setiap satu PLTBg membutuhkan dana 4,7 juta dolar Amerika Serikat (sekitar 63,5 miliar rupiah). Namun, per 2017, Asian Agri sudah berinisiatif membangun tujuh buah PLTBg.

Meski begitu, pencapaian tersebut dirasa belum cukup. Asian Agri berencana sudah akan memiliki 20 PLTBg untuk mendukung operasi perusahaannya pada 2020 nanti.

Langkah tersebut akhirnya memang berguna membuat Asian Agri mampu mandiri memenuhi kebutuhan energinya. Namun, lebih dari itu, masyarakat juga merasakan manfaatnya. Sebab, sisa energi yang diproduksi disalurkan oleh Asian Agri ke khalayak.

Seperti dilaporkan oleh Sawit Indonesia, sejak didirikan pada 2015, PLTBg Asian Agri banyak membantu masyarakat. Mereka bisa menyuplai sisa energi yang dimilikinya ke PLN.

Salah satu contohnya ada di Tanjung Jabung Barat di Provinsi Jambi. Untuk menyuplai listrik ke PLN, Asian Agri sampai membangun instalasi listrik ke di area dalam radius sebelas km dari pabriknya di sana.

Berkat langkah itu, PLN Tanjung Jabung Barat mampu meningkatkan suplai listriknya. Energi listrik dari Asian Agri kemudian mereka salurkan ke Desa Lubuk Bernai dan Desa Lubuk Lawas, Kecamatan Batang Asam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang masing-masing memiliki 620 Kepala Keluarga (KK) dan 285 KK.

“Hal ini adalah salah satu komitmen Asian Agri untuk community (masyarakat) dan country (negara) dengan menyalurkan 600 KWh listrik kepada PLN Tanjung Jabung Barat, sehingga suplai listrik PLN Tanjung Jabung Barat meningkat,” ujar Manajer Pabrik Kelapa Sawit PT DAS, Helsin Sinuraya, di Sawit Indonesia.

DILAKUKAN OLEH ANAK PERUSAHAAN RGE LAIN
Asian Agri bukan satu-satunya anak perusahaan RGE yang mampu memanfaatkan limbah produksi sebagai sumber energi. Grup APRIL adalah contoh lainnya.

Produsen pulp dan kertas terkemuka di dunia itu juga mampu mengolah limbah produksinya. Mereka memanfaatkan lindi hitam atau black liquor yang merupakan hasil ikutan dalam proses produksi.

Memanfaatkan ketel uap pemulihan terbesar di dunia, APRIL sanggup mengolah limbah produksinya itu menjadi sumber energi listrik. Secara total, APRIL mampu memproduksi listrik setara 390 megawatt per tahun.

Sama seperti Asian Agri, APRIL mulanya melakukannya untuk pemenuhan kebutuhan operasionalnya sendiri. Namun, dalam praktiknya, terdapat kelebihan energi. Ini yang akhirnya disalurkan oleh APRIL kepada masyarakat.

APRIL memutuskan untuk memberikan kelebihan energi listrik yang dihasilkannya sebanyak 2 persen. Jumlah itu mencapai 10 megawatt. Masyarakat Pangkalan Kerinci yang berada di sekitar pabrik PT Riau Andalan Pulp & Paper (unit bisnis APRIL, Red.) menikmatinya. Mereka mendapat suplai listrik setelah RAPP menjalin kerja sama dengan PLN untuk pendistribusian.
Langkah yang diambil oleh Asian Agri dan APRIL tersebut sedikit banyak telah membantu meringankan beban pemerintah. Mereka sanggup menghadirkan energi listrik sendiri sehingga meningkatkan elektrifikasi.

Hal itu juga selaras dengan upaya pemerintah Indonesia saat ini. Mereka tengah mengincar target untuk menghadirkan listrik hingga 35 ribu megawatt hingga tahun 2019 nanti.

Bisa dibayangkan jika ada banyak pihak swasta yang mau berkontribusi serupa seperti perusahaan Sukanto Tanoto. Tentu saja target 35 ribu megawatt yang dirasa ambisius itu bisa saja tercapai.

Sukanto Tanoto memang ingin perusahaannya menjalankan filosofi bisnis 5C yang dicanangkannya. Ia mewajibkan seluruh perusahaan di bawah kendali RGE agar mencari cara agar berguna bagi internal perusahaan, konsumen, masyakat, negara, hingga aktif menjaga keseimbangan iklim.

Pembuatan sejumlah pembangkit tenaga listrik dari kejelian mengolah limbah merupakan perwujudan terbaik. Dengan itu, RGE sanggup memberi manfaat kepada masyarakat. Mereka menyuplai sisa energi listrik ke khalayak di sekitarnya.

Langkah itu jelas memberi manfaat kepada negara. RGE meringankan beban negara dalam memenuhi kebutuhan listrik untuk masyarakat maupun industri.

Selain dua hal tersebut, pembangkit listrik tenaga limbah juga perwujudan langkah aktif menjaga lingkungan. RGE mengambil jalan yang cerdik. Limbah mereka manfaatkan menjadi sumber energi. Ini penting karena jika tidak dikelola dengan baik, limbah berpotensi merusak lingkungan.

Energi yang dihasilkan dari limbah produksi RGE juga ramah lingkungan. Energi biogas jauh lebih aman dibandingkan dengan energi fosil. Dan lebih baik karena energi tersebut adalah energi terbarukan.

Akibatnya penggunaan energi fosil di tubuh RGE semakin ditekan. Sebagai contoh di APRIL, energi dari bahan bakar bio sudah mendominasi. Jumlahnya mencapai 85 persen dari total energi yang digunakan. Energi fosil yang dipakai kini hanya tersisa 15 persen, namun APRIL masih bertekad untuk menghapusnya sama sekali.

Arahan Sukanto Tanoto terlihat disambut dengan baik oleh RGE. Terbukti nyata kontribusi RGE terhadap pengadaan listrik nasional tidak bisa dianggap remeh.

Sumber: http://www.po-and-g.com/id/tentang-kami/sukanto-tanoto-id

Komentar Anda