Review iPhone 5s – Masih Layak Pakai di tahun 2021

Review iPhone 5s - Masih Layak Pakai di tahun 2021 - Ukuran Uneed CompactBox 10 iPhone 5s

iPhone 5s, mantan flagship ponsel Apple yang rilis 2013 silam. Di tahun 2021, spesifikasi iPhone 5s jelas terlihat menyedihkan. Layar 4 inci, CPU Dual-core 1.3 GHz, RAM 1 GB dan tanpa slot microSD. Saya beli iPhone 5s bekas seharga Rp1.100.000 di tahun 2019.

Soal CPU dan RAM, iPhone 5s masih sanggup menjalankan aplikasi populer seperti WhatsApp, Instagram, Google Maps tanpa masalah. Saya sendiri sempat heran padahal RAM-nya cuma 1 GB. Saya bandingkan dengan Samsung Galaxy J5 yang RAM-nya 1.5 GB tapi tidak semulus iPhone 5s saat menjalankan Google Maps.

Game sederhana seperti Brawl Stars saja Galaxy J5 tidak sanggup, padahal secara spesifikasi lebih tinggi dari iPhone 5s. Harganya pun lebih mahal. Saya tidak tahu apakah iPhone 5s bisa untuk main game seperti PUBG atau Free Fire, kebetulan saya memang tidak suka game seperti itu.

Entah berapa kali iPhone 5s ini jatuh sampai cover atas dan bawah terlepas. Touch ID juga retak, efeknya fitur fingerprint rusak total walaupun tombolnya masih berfungsi dengan baik. Agak kaget ketika pakai iPhone 5s, apalagi sebelumnya saya pakai J5 yang layarnya 5 inci.

Sampai saat ini saya belum menemukan masalah di layar iPhone 5s. Saya masih bisa mengetik dengan cepat dan akurat walaupun layarnya kecil. Cuma yang merepotkan adalah ketika ingin membuka layar harus pakai PIN 4 digit. iOS tidak punya mekanisme “slide to unlock” seperti Android.

Dulu sebelum Touch ID-nya retak, saya terbiasa membuka iPhone 5s pakai sidik jari, prosesnya cepat rasanya tidak sampai 2 detik. Saya tanya ke servis Apple yang tidak resmi, ternyata tidak bisa diservis fingerprint-nya kalau sudah rusak.

Kamera iPhone 5s juga tidak kalah dengan kamera ponsel keluaran terbaru walaupun resolusinya cuma 8 MP. Apalagi fotonya di area terbuka dengan cahaya melimpah, dijamin tidak kelihatan kalau fotonya dari ponsel jadul 9 tahun silam.

Videonya paling mentok di resolusi 1080p, kekurangannya adalah ketika pakai flash akan cepat panas dan flash-nya mati sendiri. Kalau video tanpa flash di ruangan yang cukup terang, kualitas videonya termasuk bagus.

Saya beli versi jepang dengan memori internal 32 GB. Jeleknya iPhone itu tidak punya slot kartu memori, tapi tergantung penggunanya juga sih. Kalau saya 32 GB masih cukup bahkan lebih. Versi jepang ini kameranya tidak bisa silent, tapi ada aplikasinya.

GPS, fitur ini penting buat saya karena suka menjelajah tempat baru. Saya rasakan sendiri kalau GPS iPhone 5s ini jauh lebih cepat dan akurat daripada Samsung Galaxy J5. Saya pakai 2 aplikasi, Google Maps dan Maps.me untuk navigasi offline kalau internet lambat atau hilang di daerah tertentu.

Soal baterai, iPhone 5s tidak bisa tahan lama untuk gaming. 30 menit main game Brawl Stars, langsung drop ke 20% dari full charge. Bodinya jadi panas ketika buat main game apalagi kalau pakai case.

Apple ternyata masih peduli sama iPhone 5s walaupun ini produk lawas. Buktinya adalah masih dapat update iOS sampai versi 12.5.1 tahun 2020 kemarin. Ibu saya pengguna Samsung Galaxy S5 yang sama-sama mantan flagship, sudah tidak dapat update Android.

iPhone 5s saya pakai sebagai hotspot internet untuk laptop dan ponsel Android. Walaupun lawas, iPhone 5s sudah mendukung 4G & LTE jadi belum ketinggalan banget, entah kapan 5G hadir di Indonesia. Wajar kalau baterai iPhone 5s ini cepat drop karena sering digunakan sebagai hotspot. Solusinya ya sedia powerbank.

Jadi, saya berani bilang kalau iPhone 5s masih layak di tahun 2021. Untuk chatting, foto, video, browsing, game ringan (seperti Brawl Stars), hotspot internet dan navigasi masih sangat mumpuni. Bahkan saya belum kepikiran untuk ganti ponsel baru.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*