Review Menggunakan Laptop MacBook Pro 13″ Mid-2010

Posted on

Saya mengambil langkah yang cukup ekstrim. Menjual komputer dengan spesifikasi AMD A8-9600 Quad-Core 3.4 GHz dan membeli laptop lawas dengan prosesor Intel Core 2 Duo. Apakah saya sadar ketika itu? Ya tentu saja hehee

PC Rakitan AMD A8-9600 3.4GHz

Tentu ada alasan di balik itu semua, karena memilih perangkat untuk pekerjaan seperti ini sangat penting. Ada beberapa alasan kenapa saya “tega” menjual komputer dengan spesifikasi 2017 dan membeli laptop spesifikasi 2010.

1. Sekarang Saya Sangat Membutuhkan Laptop
2 atau 3 tahun lalu mungkin saya masih cukup untuk menggunakan komputer saja karena jarang sekali keluar rumah. Sekarang karena saya punya jadwal rutin keluar kota 8 hari setiap bulannya maka rasanya wajib punya laptop. Tidak mungkin saya menunggu menyelesaikan pekerjaan ketika kembali ke rumah.

2. Sudah Tidak Bermain Game Lagi
Ini salah satu alasan kuat kenapa saya berani menjual komputer tersebut. Untuk produktivitas yang lebih baik saya mencoba menahan diri melakukan hal yang tidak bermanfaat untuk saya pribadi. Bermain game menjadi salah satu alasan kenapa saya begitu setia menggunakan komputer. Bukankah bisa juga bermain game di laptop? Ya bisa juga, tetapi menurut saya lebih nyaman dan murah menggunakan komputer.

3. Ingin Mencoba Sistem Operasi Buatan Apple
Kira-kira tahun 2017 saya meninggalkan sistem operasi Linux secara total, padahal belum genap setahun saya pakai Xubuntu kemudian kembali lagi pakai Windows. Saya merasa kesulitan menggunakan sistem operasi gratis ini, saya terlalu dipusingkan masalah sepele seperti adapter wifi yang tidak terbaca dan driver vga nvidia yang tidak kompatibel. Sejak kejadian ini saya yakin linux bukan untuk saya.

Selama menggunakan Windows sebenarnya juga ada banyak masalah mulai dari wifi yang tidak terdeteksi ketika sleep mode jadi harus restart dulu. Setting yang super ribet khas Windows 10 dan juga lambatnya sistem Windows 10 ketika saya belum upgrade ke SSD.

Ada satu sistem operasi yang belum pernah saya coba, yaitu OS X atau macOS. Saya dulu menganggap semua sistem operasi itu sama saja tetapi ketika menggunakan laptop Apple milik adik ipar saya merasa lebih nyaman. Laptop Apple yang saya coba waktu itu MacBook White 2010, MacBook Air 2017 dan MacBook Pro Retina 2017. Rasanya beda banget ketika menggunakan laptop Windows dan laptop Apple.

Dimulai dari trackpadnya yang sangat enak digunakan sampai saya tidak terpikir untuk pakai mouse, kombinasi keyboard shortcut yang membuat pekerjaan semakin efektif, sistem operasi yang sederhana dan ringan bahkan untuk laptop dengan spesifikasi lawas seperti Intel Core 2 Duo yang saya pakai ini. Saya tidak merasa sedang menggunakan laptop lawas karena booting dan membuka program terasa cepat, hampir tidak ada bedanya dengan komputer Quad-Core yang saya jual itu.

Pilihan Jatuh Pada MacBook Pro 13″ Mid-2010
Maunya sih beli yang baru sekalian, tapi karena terbatasnya dana maka saya mencoba peruntungan dengan membeli MacBook Pro bekas. Di kisaran harga yang masih terjangkau anggaran saya adalah seri MacBook Pro 13″ Mid-2010 harganya Rp 4.900.000 dengan spesifikasi berikut ini:

Spesifikasi MacBook Pro 13 Mid-2010

Port di MacBook Pro 13 Mid 2010

  1. Prosesor: Intel Core 2 Duo, Dual Core 2.4 GHz
  2. RAM: 4 GB DDR3, masih bisa diupgrade ke maksimal 8 GB
  3. Storage: SSHD Seagate Momentus XT 500 GB 7.200 RPM
  4. Graphic: NVIDIA GeForce 320M 256 MB
  5. Sistem operasi: OS X Yosemite, sudah saya upgrade ke El Capitan. Info dari Apple bisa diupgrade sampai macOS Sierra.
  6. 2 port USB 2.0
  7. Card reader slot dan port headset di sebelahnya
  8. Layar 13 inci resolusi 1280 x 720 pixel dengan webcam di bagian tengah atas
  9. Port Firewire (ga tau buat apa nih), ethernet & miniDisplay port.
  10. CD-ROM model slot loading

Tes Kecepatan SSHD di MacBook Pro 13 Mid-2010

Perbedaan Kecepatan SSD dan Harddisk ↑ Sebagai perbandingan, ini kecepatan SSD di komputer saya yang dulu.

Untuk storagenya sudah diganti oleh pemiliknya, soalnya saya lihat sudah berbeda dengan aslinya yang menggunakan 250 GB 5.400 RPM, kapasitasnya lebih sedikit dan lebih lambat. Untuk fisiknya termasuk masih bagus tidak begitu banyak cacat atau kerusakan walaupun sudah 8 tahun berlalu. Sepertinya pengguna sebelumnya ini tidak terlalu brutal ketika menggunakannya, soalnya ada beberapa yang saya lihat di toko online yang fisiknya baret parah, penyok seperti dibanting. Ya efeknya sih harga jadi lebih murah.

Kelebihan: Timeless Design
Yang menarik dari MacBook Pro ini adalah desainnya yang tidak tergerus waktu. Ini memang menjadi ciri khas produk laptop Apple yang tidak begitu sering ganti desain. Selain itu desainnya juga simple dan minimalis dengan bodi berbahan alumunium.

Logo Apple

Keyboardnya Sangat Nyaman untuk Mengetik
MacBook Pro seri MC374 ini punya keyboard yang menurut saya sangat nyaman untuk mengetik. Terbukti dari kecepatan mengetik saya yang lebih cepat daripada sebelumnya bahkan bisa tembus 90 WPM. Keyboardnya dilengkapi backlight yang bisa diaktifkan ketika mengetik di tempat gelap atau kurang penerangan.

Masih Bagus dan Cepat untuk Bekerja

Masih Bisa Upgrade RAM & Storage
Seperti laptop pada umumnya, MacBook Pro ini masih diupgrade RAM dan storagenya. Rencana saya menambah RAM menjadi total 8 GB dan menggunakan SSD. Sedangkan SSHD yang lama rencananya saya pindah menempati CD-ROM menggunakan HDD Caddy. Tapi sayangnya karena masih menggunakan SATA II jadi tidak memaksimalkan kecepatan SSD sekarang yang rata-rata di atas 400 MB/s.

Kekurangan: Cepat Panas
Salah satu kekurangan dari MacBook Pro ini adalah cepat panas dan panasnya begitu terasa. Saya tidak tahu tepatnya berapa derajat celcius tapi rasanya lebih panas dari laptop Windows yang pernah saya pakai. Solusinya adalah memakai laptop cooler atau berada dekat kipas angin. Bodi laptop ini menggunakan alumunium sehingga cepat panas dan cepat dingin, ketika saya berada di Banjarnegara yang cuacanya dingin, pagi hari bodi laptop ini terasa sangat dingin. Saya cek menggunakan coconutBattery suhunya 26 C, kalau siang hari suhunya bisa naik sampai 30 C saat penggunaan yang cukup intens.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *