Saya Berhenti Menjadi YouTuber

Bukan clickbait seperti YouTuber lain yang mengejar views, tapi memang beneran saya berhenti dari dunia YouTube.

Melakukan sesuatu yang bukan karena kesukaan atau hobi ternyata sulit, itu yang saya rasakan ketika membuat channel YouTube. Saya mulai membuat channel YouTube bulan November 2017. Tujuan utama saya adalah uang, saya rasa semua YouTuber juga begitu tapi bedanya, saya tidak punya skill dan passion di bidang video jadi ya..begitulah.

Saat itu persyaratan YPP (YouTube Partner Program) mulai dipersulit, jumlah minimal subscriber 1.000 dan waktu tayang 4.000 jam! Baru di bulan Juni 2018 channel saya bisa melewati syarat monetisasi YouTube.

Monetisasi YouTube

Banyak yang kecewa, termasuk saya. Ya kan niat saya upload video ke YouTube itu untuk cari uang. Percuma kalau banyak yang lihat tapi ternyata monetisasi belum aktif. Jadi selama rentang waktu November 2017 sampai Juni 2018 itu saya tidak dapat apa-apa. Ya rugi waktu dan tenaga, tapi ngga rugi banget sih, saya jadi ngerti tentang cara pembuatan video, lighting, eksperimen foto flat lay dan edit audio.

Cara Membuat Foto Flat Lay dengan HP
Contoh hasil foto flat lay. Token internet banking, mifi, microphone Rode dan kotak SSD.

Satu hal yang membuat saya kesal adalah ternyata video saya banyak ditonton orang. Saya bukan mengupload video sampah seperti prank, pamer harta atau lelucon murahan, tapi video edukasi tentang cara memanfaatkan blog supaya bisa menjadi uang. Seingat saya lebih dari 100.000 views! Nah, sayangnya saat itu monetisasi belum aktif, so I got nothing!

Saya baru sadar, dunia YouTube tidak cocok untuk saya. Di YouTube itu hal yang disukai orang Indonesia adalah hal-hal tidak berguna seperti prank, pamer, dan lain-lain. Video edukasi seperti yang saya buat tidak akan pernah ada peminatnya, ya ada sih tapi sedikit dan itu tidak bisa jadi uang. Berbeda ketika selebritis mengupload video yang menurut saya sama sekali tidak berguna, tapi karena banyak yang suka ya jadi duit buat mereka. Yang nonton sih habis waktu dan uang untuk paket data.

Beruntung, channel pertama saya itu dibeli orang seharga Rp 5.000.000. Saya ga minta tambahan, langsung saya terima saja penawaran dia. Bahkan saking senangnya, saya kasih microphone Rode VideoMic Me gratis! Padahal mic itu saya beli seharga Rp 750.000, hah niat banget kan bikin channel YouTube-nya. Akhirnya, jerih payah saya terbayar dengan penjualan channel itu, kalau dari YPP sih baru sekali bayaran dan itu belum cukup menutupi uang yang saya keluarkan.

Microphone untuk YouTuber Rode VideoMic Me
Saking senangnya, saya kasih mic ini gratis ke pembeli. Ongkirnya ditanggung pembeli sih Rp 42.000 ke Medan.

Masa lalu bukan untuk dikenang, tapi untuk diambil hikmahnya. Sepertinya, tempat saya memang di blog, sebagaimana hal ini berawal di tahun 2008 sampai sekarang, sudah 10 tahun berlalu dan masih aktif juga walaupun jarang nulis.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*